Faktor Serta Mengatasi Kesulitan Belajar

Pengertian kesulitan belajar
        Prayitno, dalam buku Bahan Pelatihan Bimbingan dan Konseling (“Dari Pola Tidak Jelas ke Pola Tujuh Belas”) Materi Layanan Pembelajaran, Depdikbud (1995/1996:1-2) menjelaskan: Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar mengajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Hambatan-hambatan tersebut mungkin dirasakan atau mungkin tidak dirasakan oleh siswa yang bersangkutan. Jenis hambatan ini dapat bersifat psikologis, sosiologis dan fisiologis dalam keseluruhan proses belajar mengajar.

Selanjutnya, bila dikembangkan pemahaman konsep kesulitan belajar maka pengertian kesulitan belajar mempunyai suatu pengertian yang sangat luas dan mendalam, termasuk pengertian-pengertian: “learning disorder”, “learning disabilities”, “learning disfunction”, “underachiever”, dan “slow learners”.

Kesulitan belajar, pada dasarnya merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi tingkah lakunya.
Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam berbagai bentuk tingkah laku.
Gejala ini akan nampak dalam aspek-aspek motoris, kognitif, konatif dan afektif, baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya.

Beberapa ciri tingkah laku yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang selalu berusaha untuk belajar dengan giat, tapi nilainya yang dicapainya selalu rendah.
3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar. Ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia.
4. Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
5. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tidak mau bekerja sama, dan sebagainya.
6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu.

Faktor kesulitan belajar
Faktor penyebab kesulitan belajar dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu :
A. Faktor internel, yaitu faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa itu sendiri. Hal ini diantaranya disebabkan oleh :
1. Kelemahan fisik, pancaindera, syaraf, cacat karena sakit, dan sebagainya.
2. Kelemahan mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat.
3. Gangguan-gangguan yang bersifat emosional.
4. Sikap kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran.
5. Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami materi pelajaran lebih lanjut.
B. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, antara lain :
1. Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif “student active learning”).
2. Sifat kurikulum yang kurang fleksibel.
3. Beban studi yang terlampau berat.
4. Metode mengajar yang kurang menarik
5. Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
6. Situasi rumah yang kurang kondusif untuk belajar.

Mengatasi kesulitan belajar
Cara mengatasi kesulitan belajar diantaranya yaitu :
1. Posisi tempat duduk siswa
    Siswa yang mengalami kesulitan belajar disebabkan kurangnya pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi tempat duduk bagian depan.
2. Gangguan kesehatan
    Siswa yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberi materi pelajaran dan dibimbing oleh orang tua atau keluarga.
3. Program remedial
    Siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internel, perlu melaksanakan program remedial. Teknik program remedial dapat dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya dengan mengulang kembali materi pelajaran yang belum dikuasai dan memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa.
4. Bantuan media dan alat peraga
    Penggunaan alat peraga pelajaran dan media belajar kiranya cukup membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaraan.
5. Suasana belajar menyenangkan
Suasana belajar yang nyaman dan menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami hambatan dalam menerima materi pelajaran.



Referensi :
https://www.matrapendidikan.com/2015/01/kesulitan-belajar-siswa-cara_11.html?m=1
Psikologi Pendidikan Diagnostik kesulitan belajar (DKF) oleh Sugiyanto,M.Pd Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Komentar